September 20, 2012


Well, sebenernya ini cerpen udah dari jaman jebat, tapi buat lucu-lucuan aja. HAHA, check this out!

Bahagia itu simple
By: Aliajaya Ayuningrat

                 “Apakah kamu bersedia menjadi pendampingku, Claire?”, bisik Pangeran Aaron. Hati Claire seakan-akan berhenti sekejap. Matanya tidak dapat berkedip, terlalu sulit untuknya bernafas. “Ya, aku mau menjadi pendampingmu, Aaron.” . Lalu mereka hidup bahagia selamanya di Istana yang megah.
                 Wow, tunggu dulu. Cerita tadi bukan cerita sebenarnya. Itu adalah impianku, ya, dilamar oleh pangeran tampan. Siapa yang akan menolak? Aku rasa tidak ada yang akan menolaknya. Termasuk aku. Aku adalah tipe orang yang sangat mendambakan kisah-kisah romantic di film menjadi kenyataan. Walaupun aku tahu, film adalah rekayasa. Tapi aku masih berpikiran bahwa betapa indahnya hidupku ini bila setiap adegan yang ada di film itu menjadi kenyataan.
                 Aku punya pacar, namanya Rizky, tapi dia tidak perhatian. Tidak seperti yang ada di film-film kebanyakan. Dia cuek, ya walaupun dia sering memberiku hadiah, tapi apa gunanya hadiah kalau tanpa perhatian sama sekali. Memang sih, ganteng. Dan alasanku mempertahankan hubungan ini adalah: orangtua. Orangtuaku dan orangtuanya adalah sahabat baik. Mereka berusaha mempertahankan hubunganku dengan dia sampai kami menikah. Apa? Sampai menikah?? Ya Tuhan, kenapa bukan yang lain, sih?
                 Tapi akhir-akhir ini ada yang berbeda dengan dia. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang dia pikirkan. Mungkin stress karena dia sedang berada di kelas XII sekarang dan  sibuk belajar untuk UN atau bagaimana sehingga dia tidak ada waktu buat aku. Dan aku berusaha mencari kesibukanku sendiri supaya tidak diingatkan dengan hal yang menggangguku seperti perubahan Rizky tadi. Aku mencoba bergabung dengan club vocal di sekolahku. Suaraku tidak terlalu bagus, tapi satu-satunya bakatku yang paling lumayan hanya itu. Menyedihkan. Okay, kelas pertama dimulai. Ternyata di club vocal sekolahku cukup menarik. Ada pelatih yang handal, anak-anak yang tidak begitu popular tapi sangat asyik untuk bersenda gurau. Tidak beberapa lama kemudian, mereka sudah aku anggap seperti keluarga keduaku.
                 Hari minggu, 10 hari setelah rencana menyibukkan diriku dimulai, Rizky menelponku secara tiba-tiba. Aku sebenarnya ingin menolaknya, tapi aku tidak enak dengannya. Lagian sudah lama juga kami tidak berhubungan lagi semenjak sepuluh hari yang lalu.
                 “Halo, Anne?”, dia menyapa.
                 “Iya, kenapa Riz? Kok tumben telepon?”, jawabku dengan nada datar.
                 “Besok kamu dateng ya, ke Café Piazza deket sekolah! Jam setengah 4. Pokoknya kamu harus dateng sendirian. Meja nomer 17. Daah.Tuut, tuut, tuuut, tuuut”
                 WHAT? Ini orang sangat membingungkan. Tiba-tiba telepon, tak ada basa-basi langsung nyerocos. Memangnya aku ini pembantumu yang kamu suruh-suruh seenaknya. Dasar pacar yang aneh. Nyebelin. Tapi apa ya yang Rizky maksud? Benar-benar membingungkan. Aaaaaaaah.
                                                                       

                 Hari senin. Aku benci hari senin, kenapa harus ada hari senin? Hari senin itu awal dari hari sekolah yang membosankan. Kapan ada pangeran ganteng yang menikahiku di istana megah dengan rakyat-rakyatku yang menyoraki namaku dan pangeran? Uh, hanya mimpi.
                 Seperti yang Rizky perintahkan kepadaku, aku langsung pergi ke Piazza Café setelah kelas vocal ku selesai. Tepat pukul setengah 4 aku sampai disana. Tunggu, kenapa tidak ada Rizky disana? Ah, mungkin dia terlambat. Langsung saja aku duduk di meja nomor 17. Meja nomor 17 ini sangat special, beda dari meja lain yang aku lihat di sekelilingku. Taplaknya warna merah, sementara yang lain hanya taplak meja krem yang usang. Ada secarik kertas di dekat nomor meja, surat dari Rizky!
                 “Hey Anne, sebelumnya aku minta maaf ya, akhir-akhir ini aku jarang berada di deketmu. Ya kamu tau sendiri kan, UN sebentar lagi dan aku nggak mungkin dong nggak belajar dan les les les. Makannya aku ngundang kamu kesini, aku mau ngajak kamu nonton konser Bruno Mars. Nih tiketnya, jangan sampe ilang. Konsernya besok sabtu. Makasih ya udah sabar punya pacar kayak aku yang ga merhatiin kamu. “
*Rizky *
                 Well, sebenarnya aku senang dengan surat dan tiket yang diberikannya. Tapi kok nggak ada orangnya?  Padahal aku kangen Rizky, walaupun tidak pernah aku ungkapkan.
                 “Permisi kak Anne, ini ada pesanan dari mas Rizky. Dan sudah dibayarkan oleh mas Rizky kemarin siang. Terimakasih” Pelayan café itu menyodorkan sebuah kotak yang berisi coklat Cadburry dan boneka kecil bertuliskan  “I Miss You”. Dan dia memberikanku lagi sebuket bunga mawar merah dan putih yang sangat harum. Di bunga mawar tersebut, ada kartu ucapan “jam 15.45 pak supir jemput kamu di depan café. Siap-siap ya! Love you.”
                 Haduh, pasti kerjaan Rizky nih, nyusahin orang. Udah capek-capek ke café luntang luntung sendirian, disuruh pulang lagi. Mana bawaannya banyak banget, ada bunga, coklat, boneka, surat. Sengaja ya bikin aku susah. Ih, bete bete bete.
                 “TINN… TINNN….” Suara klakson mobil berbunyi. Aku langsung terburu-buru menuju mobil tersebut.
                 Aku sudah hapal mobilnya, Swift warna silver. Bahkan supirnya pun, Pak Ade, aku sangat dekat. Sepanjang perjalanan aku tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Pak Ade. Hingga pada saatnya aku dan pak Ade harus berpisah. Beliau membantu membawakan barang-barangku.
                 “Mbak Anne, ini ada titipan dari mas Rizky. Katanya suruh di kasihin waktu mbak Anne sudah sampai rumah, hehehe. Apa to mbak isinya?” Pak Ade menjelaskan.
                 “wah ini dibungkus pak, besok aja ya kalo ketemu nanti aku kasih tau hehe. Yaudah pak, hati-hati ya di jalan. Makasih lho udah nganterin aku.” Jawabku.
                 Pak Ade pun pergi meninggalkan rumahku. Aku berlari ke kamar. Ingin cepat cepat mengetahui apa isi titipan Rizky yang diberikan pak Ade tadi. Wow, ternyata sepasang sepatu yang mahal, mungkin harganya sekitar lima ratus ribuan. Indah sekali, warnanya coklat dengan hiasan berwarna emas.
                 Semalaman aku berpikir, ada apa sebenarnya Rizky ini? Kemarin aku dibiarkan terbengkalai, sekarang, berubah 180 derajat. Ini yang sebenarnya aku impikan, sebuah cerita yang mirip film-film Hollywood. Saking senangnya, tidak terasa kalau hari berlalu sangat cepat. Sekarang adalah hari Rabu!
                 Hari Rabu adalah hari favoritku, entah kenapa. Mungkin karena pelajarannya tidak terlalu rumit, ditambah ada kelas vocal. Hari ini aku berlatih bersama teman-teman vocal ku. Tanpa sadar, aku menceritakan semua yang terjadi pada hari senin ke semua teman di kelas vocal ku. Semuanya iri terhadapku, aku semakin tersipu malu. Ternyata pacarku didambakan para wanita setelah aku cerita tentang perlakuannya terhadapku. Oh, betapa indahnya hari ini.
                 Jam menunjukkan pukul 19.00, waktunya makan malam bersama keluarga. Kebetulan kamarku berada di atas, sehingga harus melewati tangga yang membosankan untuk ke lantai bawah. Ternyata, di meja makan sudah ada orangtua Rizky. Orangtuaku dan orangtuanya saling berbagi cerita. Termasuk hubunganku dengan Rizky.
                 “Sini nak Anne, gimana nih kabarnya? Kok makin lama makin cantik nih? Pantes si Rizky nempel terus kayak lem, lha wong terpesona sama kecantikan nak Anne kok. Hehe, sini duduk di sebelah tante” mamanya Rizky memujiku dengan kata-kata lebaynya.
                 Situasi berlangsung panas ketika mamaku dan mamanya membahas tentang masa depan aku dan Rizky. Batinku, kenapa harus sekarang sih dibahasnya. Kuliah saja belum. Kerja juga belum, masa langsung menikah begitu aja sih? Belum lagi kalau diantara kami ada masalah nantinya. Dasar, orangtua memang selalu begitu.
                 Sementara ayahku dan ayah rizky sibuk membahas tentang perekonomian Negara dan bisnis mereka yang sedang berkembang pesat. Aku pura-pura tidak mendengar apapun. Hanya berkonsentrasi pada steak daging yang ada di depanku. Dan pada saat yang tak terduga-duga, mamaku dan mama Rizky menentukan kapan kami akan tunangan. Mereka memintaku untuk siap pada umur 19 tahun. Aku cuek saja, masih lama juga. Aku menjawab semua pertanyaan dengan kata “Ya, mah. Ya, Tante, hehehe.”.
 





                 Pukul 08.00, hari Sabtu. Aku bangun dengan sempoyongan karena tidur kelamaan. Tunggu, tunggu, jam berapa sekarang? HAH? Aku telat bangun. Seharusnya 1 jam yang lalu aku masuk kelas. Padahal jam ke 5-6 nanti ada ulangan matematika yang gurunya super duper galak. Bisa dihukum nih aku, mati. Yasudahlah, diambil hikmahnya saja, lagian aku kan bisa menyiapkan pakaian buat nanti malam. Asiik.
                 Baju, oke. Celana, oke. Hmm, aksesoris, siap. Jepit rambut, sempurna! Akhirnya selesai juga mix and match bajunya. Saatnya sarapan. Aku menuruni tangga dengan semangat dan “BRUKKKKKKKKKK”, ah! Aku terjatuh dari tangga. Bagaimana bisa? Aku sudah hati-hati tapi……….. bagaimana bisa? Aku takut kakiku kenapa-kenapa. Mamaku langsung lari dari kamarnya menuju tempatku terjatuh.
                 “YA AMPUUUUN ANNE! Kamu kok disini? Mama kira kamu udah berangkat daritadi. Kamu kan harusnya sekolah. Sekolah itu penting buat masa depan, buat kerjaanmu, buat anak cucumu, buat……………”
                 “mahhh! Tolongin Anne dong, please” jeda ku.
                 “baik, baik. Mamah panggilin dokter Dessy ya.”, ucap mamaku sambil membopongku ke sofa ruang tamu.”
                 Pukul 12.55, dokter Dessy menjelaskan semuanya ke mamaku, aku tidak dapat mendengarnya. Jangan-jangan aku lumpuh? Lalu diamputasi? Lalu aku akan cacat selamanya?????
                 “sayangku, kamu yang sabar ya. Kakimu retak, kamu harus banyak istirahat. Besok pagi kita bawa ke rumah sakit untuk perawatannya ya?” kata mama.
                 “Apa? Berarti………aku………huhuhuhuhu” ucapku sambil menangis.
                 “loh kamu kenapa? Sudah sudah, jangan dipikirkan. Paling 3 hari kamu sudah bisa balik sekolah kok” tenang mama.
                 Aku terus menangis. Mama tidak tahu apa yang aku rasakan. Mama tidak tahu bahwa nanti malam adalah acara yang besar buat aku dan Rizky. Malam yang aku nantikan selama ini. Malam impian para remaja.
                 Pukul 17.00, aku terbangun. Di sisi kanan ku ada laki-laki yang sedang memegang tanganku. Baunya wangi. Berpakaian rapih, dan, ya dia adalah Rizky. Aku sangat senang dengan keberadaannya, tapi aku merasa bersalah. Gara-gara kecerobohanku, aku sampai begini dan gagal nonton konser bersama pacar.
                 “kamu udah bangun?”, Tanya Rizky.
                 “iya. Rizky, aku minta maaf ya, kamu udah beliin aku segala macem tapi akunya malah kayak gini. Aku memang nyebelin, maaf banget ya Rizky. Aku akan ganti semua kerugianmu deh. Akan aku lakuin apa aja. Maaf banget ya Riz.”
                 “kamu ga perlu kayak gitu. Lagian tiketnya udah aku kasihin temen vocal kamu kok. Mereka seneng banget. Kamu udah sehatan?”
                 “iya aku udah agak sehat. Makasih ya udah dateng ke rumah. Aku kangen sama kamu Riz. Udah lama kita nggak kontak-kontakan, kemana aja?” mata Anne berlinang air mata.
                 “loooh, kok nangis. Ga boleh nangis dong. Aku akhir-akhir ini sibuk les, An. HP ku disita selama seminggu. Papahku ketat banget jagain aku belajar. Maklumin aku ya, kamu ga marah kan?”
                 “aku ga marah Riz, aku Cuma khawatir aja sama kamu”, jawabku.
                 “jangan khawatir sama aku, selama aku masih ada di hati dan pikiranmu, aku akan baik-baik aja. Begitu pun sebaliknya. Perlu kamu tau, aku memang sepertinya tidak peduli, tapi sebenarnya aku tau seluk beluk kegiatanmu. Aku mengerti kamu. Aku akan selalu ada di setiap kamu butuh aku. Aku janji, ga akan ulangi kesalahan yang sama.” Ungkap Rizky.
                 “janji ya?”, tanyaku.
                 “aku berjanji, demi aku, kamu, dan kita.” Rizky meyakinkan
                 Begitulah akhir ceritaku. Semua impianku yang hanya ada di dongeng itu seakan-akan hilang dari otakku. Karena, bahagia itu bukan dari seberapa besar seseorang  mencintai kita, tapi seberapa besar kita mencintai hidup ini. Dan sampai saat ini, hubunganku dengan Rizky masih terus berlanjut di umurku yang ke 19, dan kami sudah bertunangan. What a beautiful life.
                

No comments:

Post a Comment